Footnote atau catatan kaki adalah keterangan bernomor di bagian bawah halaman yang menunjukkan sumber kutipan atau menambah penjelasan pada kalimat di atasnya. Cara membuatnya: beri nomor superskrip di akhir kalimat yang dirujuk, lalu tulis di bawah halaman nama penulis, judul, data terbit, dan nomor halaman sumbernya.

Panduan ini membahas format footnote dari buku, jurnal, dan internet, arti Ibid., op. cit., dan loc. cit. beserta statusnya sekarang, cara membuat catatan kaki di Microsoft Word dan Google Docs, serta beda footnote dengan daftar pustaka. Contoh yang kami pakai diambil dari panduan resmi Chicago Manual of Style dan pedoman kampus, bukan karangan sendiri.

Apa itu footnote atau catatan kaki?

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan catatan kaki sebagai keterangan yang dicantumkan pada margin bawah halaman buku, biasanya dicetak dengan huruf lebih kecil daripada teks, guna menambahkan rujukan uraian di dalam naskah pokok (KBBI VI Daring, entri "catatan kaki").

Tangkapan layar entri catatan kaki di KBBI VI Daring: keterangan yang dicantumkan pada margin bawah halaman buku
Entri "catatan kaki" di KBBI VI Daring yang dikutip di atas. Perhatikan dua unsurnya: letaknya di margin bawah, dan fungsinya menambahkan rujukan pada naskah pokok. Tangkapan layar diambil 30 Oktober 2026. Sumber: KBBI VI Daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Dalam karya ilmiah, footnote menjadi bagian dari sistem sitasi yang disebut notes and bibliography (catatan dan bibliografi). Sistem ini dipakai gaya Chicago dan Turabian, dan lazim di bidang sejarah, hukum, filsafat, teologi, serta sebagian besar jurusan humaniora di Indonesia. Gaya APA, MLA, dan Harvard memakai sitasi di dalam teks, misalnya (Yu, 2020), jadi tidak membutuhkan catatan kaki untuk menunjuk sumber.

Ada dua jenis isi catatan kaki:

  • Catatan kaki referensi: menunjuk sumber kutipan, lengkap dengan nomor halaman. Jenis inilah yang paling sering diminta dosen.
  • Catatan kaki penjelas: menambah keterangan yang akan mengganggu alur jika ditaruh di teks utama, misalnya definisi istilah atau data pembanding.

Menurut kami, kunci memahami footnote ada di sini: catatan kaki menunjuk lokasi spesifik (halaman tertentu) dari sebuah sumber, sedangkan daftar pustaka mendata sumbernya secara utuh. Kalau prinsip ini dipegang, sebagian besar aturan di bawah terasa logis, bukan hafalan.

Kapan footnote dipakai

Catatan kaki referensi wajib dibuat setiap kali kamu memakai gagasan, data, atau kalimat orang lain. Itu berlaku untuk kutipan langsung (kata per kata), kutipan tidak langsung, dan juga hasil parafrase. Banyak mahasiswa mengira parafrase tidak perlu sumber karena kalimatnya sudah ditulis ulang. Anggapan itu keliru: gagasannya tetap milik penulis asli, jadi sumbernya tetap harus dicantumkan.

Pedoman catatan kaki Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta menegaskan bahwa kalimat yang dikutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki, dan semua sumber yang dikutip, langsung maupun tidak langsung, kemudian disertakan dalam daftar pustaka (FIS UNJ, "Catatan Kaki"). Satu pengecualian yang disebut pedoman itu: kutipan yang diperoleh dari sumber kedua (sumber yang dikutip di dalam buku lain) tidak dimasukkan ke daftar pustaka.

Ingin memperdalam beda kutipan langsung dan tidak langsung? Baca aturan kutipan langsung dan tidak langsung beserta contohnya. Kalau kamu sedang menulis ulang kutipan, panduan cara parafrase yang benar menjelaskan kenapa sumber tetap wajib disebut.

Aturan umum penulisan catatan kaki

Aturan teknis catatan kaki berbeda sedikit antara satu kampus dan kampus lain. Karena itu, pedoman fakultas atau jurnal tujuanmu selalu menjadi acuan pertama. Di luar perbedaan itu, ada aturan yang hampir selalu sama:

  1. Nomor catatan kaki ditulis superskrip (angka kecil di atas baris), diletakkan setelah tanda baca di akhir kalimat atau klausa yang dirujuk.
  2. Nomor berurutan mulai dari 1. Dalam skripsi, sebagian kampus mengulang nomor dari 1 di setiap bab, sebagian lain meneruskan nomor sampai akhir naskah.
  3. Catatan kaki ditulis satu spasi, dimulai dari pinggir atau menjorok beberapa ketukan, asalkan konsisten (pedoman FIS UNJ).
  4. Nama penulis di catatan kaki ditulis dalam urutan biasa (nama depan dulu), tidak dibalik seperti di daftar pustaka.
  5. Judul buku dan nama jurnal dicetak miring, sedangkan judul artikel atau bab ditulis di antara tanda kutip.
  6. Sitasi pertama ditulis lengkap. Sitasi berikutnya untuk sumber yang sama boleh dipersingkat.

Soal jumlah penulis, aturannya sering berbeda. Pedoman FIS UNJ menulis lengkap nama sampai tiga penulis, lalu memakai et al. untuk lebih dari tiga. Chicago Manual of Style edisi 18 lebih ringkas: di catatan, untuk karya dengan lebih dari dua penulis cukup tulis penulis pertama diikuti et al. (Douglas College Library, panduan Chicago 18, bagian 13.23). Pilih satu aturan sesuai pedoman kampusmu dan pakai secara konsisten di seluruh naskah.

Catatan halaman. Pedoman lama memakai p. (pagina) atau hlm. (halaman), dan pp. atau hlm. untuk rentang halaman. Gaya Chicago menulis nomor halaman tanpa singkatan, misalnya 45 atau 1842-43. Untuk naskah berbahasa Indonesia, hlm. paling sering diminta.

Diagram halaman bercatatan kaki: nomor superskrip 1 dan 2 setelah titik di akhir kalimat, garis pemisah, catatan lengkap Charles Yu, Interior Chinatown (Pantheon Books, 2020), 45, dan catatan singkat Yu, Interior Chinatown, 48
Aturan umum di atas dalam satu halaman: nomor superskrip setelah tanda baca, garis pemisah, catatan lengkap untuk sitasi pertama, dan catatan singkat untuk sitasi berikutnya. Nomor catatan dibuat berurutan untuk diagram ini. Diagram oleh Rephrasa, contoh buku dari Chicago Manual of Style.

Cara menulis footnote dari buku

Footnote dari buku memuat nama penulis, judul buku (miring), data terbit dalam kurung, lalu nomor halaman. Berikut contoh resmi gaya Chicago edisi 18 dari Chicago Manual of Style Citation Quick Guide:

1 Charles Yu, Interior Chinatown (Pantheon Books, 2020), 45.

3 Yu, Interior Chinatown, 48.

Baris pertama adalah catatan lengkap untuk sitasi pertama. Baris kedua adalah catatan singkat untuk sitasi berikutnya: nama belakang penulis, judul singkat, dan halaman. Perhatikan bahwa Chicago edisi 18 tidak lagi mencantumkan kota terbit.

Pedoman kampus di Indonesia umumnya masih memakai kota terbit. Contoh dari pedoman FIS UNJ untuk buku terjemahan:

8 E.F. Schumacher, Keluar dari Kemelut, terjemahan Mochtar Pabottinggi (Jakarta: LP3ES, 1981).

Beberapa variasi yang sering muncul pada footnote buku:

  • Buku terjemahan: tulis penulis asli dan penerjemahnya, seperti contoh di atas.
  • Buku suntingan (bunga rampai): cukup tulis nama editor diikuti (ed.).
  • Tanpa nama penulis: langsung tulis judul bukunya, atau tulis Anon. di depan judul (pedoman FIS UNJ).

Saran kami: tentukan sejak awal apakah kampusmu mengikuti Chicago edisi terbaru atau format lama dengan kota terbit. Mengganti format di tengah skripsi yang sudah berisi ratusan catatan kaki jauh lebih melelahkan daripada memilih dengan benar di bab pertama. Untuk entri daftar pustakanya, kamu bisa memakai generator daftar pustaka dari buku yang membaca data lewat ISBN.

Cara menulis footnote dari jurnal

Footnote dari jurnal memuat nama penulis, judul artikel di antara tanda kutip, nama jurnal (miring), volume, nomor, tahun, halaman, dan DOI jika ada. Contoh resmi Chicago edisi 18:

1 Hyeyoung Kwon, “Inclusion Work: Children of Immigrants Claiming Membership in Everyday Life,” American Journal of Sociology 127, no. 6 (2022): 1842-43, https://doi.org/10.1086/720277.

5 Kwon, “Inclusion Work,” 1851.

Sumber: Chicago Manual of Style Citation Quick Guide. Di catatan lengkap, angka 1842-43 menunjuk halaman yang dikutip, bukan rentang seluruh artikel. Rentang penuh artikel (1818-59) baru ditulis di daftar pustaka.

Untuk jurnal atau majalah berbahasa Indonesia, pedoman FIS UNJ memberi contoh seperti ini:

11 Like Wilardjo, "Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan," Pustaka, th. III no. 3, April 1979, pp. 11-14.

Yang sering terlewat pada footnote dari jurnal adalah DOI (Digital Object Identifier, kode permanen artikel ilmiah). DOI membuat pembaca bisa menemukan artikel yang sama walaupun alamat situs jurnalnya berubah. Kalau DOI tersedia di halaman artikel, cantumkan. Kamu juga bisa menempelkan DOI ke generator daftar pustaka jurnal untuk menarik metadata artikel secara otomatis, lalu memeriksa ulang hasilnya.

Footnote dari website dan internet

Footnote dari internet memuat nama penulis atau lembaga, judul halaman di antara tanda kutip, nama situs, tanggal terbit atau tanggal diperbarui, dan URL. Panduan Chicago menyebut satu aturan penting: jika sumber tidak mencantumkan tanggal terbit atau revisi, sertakan tanggal akses (Chicago Quick Guide, bagian website).

Berikut contoh catatan kaki untuk entri kamus daring yang kami kutip di awal artikel ini, ditulis mengikuti pola Chicago:

1 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, “Catatan Kaki,” KBBI VI Daring, diakses 25 Oktober 2026, https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/catatan%20kaki.

Ada tiga hal yang perlu kamu cek sebelum memakai sumber internet di catatan kaki:

  • Siapa penulisnya. Kalau tidak ada nama orang, pakai nama lembaga pemilik situs.
  • Kapan halaman terbit atau diperbarui. Kalau tidak ada, tulis tanggal akses.
  • Apakah URL-nya stabil. Salin URL dari bilah alamat, bukan dari hasil mesin pencari.

Jujur saja, sumber internet adalah bagian yang paling sering dicoret dosen, bukan karena formatnya salah, melainkan karena sumbernya lemah. Blog tanpa penulis jelas sebaiknya diganti dengan sumber primer: situs lembaga resmi, artikel jurnal, atau buku. Untuk menyusun entri daftar pustakanya, kamu bisa memakai generator daftar pustaka dari website.

Ibid., op. cit., dan loc. cit.

Tiga singkatan Latin ini dipakai untuk menghemat pengulangan sumber di catatan kaki. Pedoman FIS UNJ menjelaskan artinya sebagai berikut (FIS UNJ, "Catatan Kaki"):

SingkatanKepanjangan dan artiKapan dipakaiContoh
Ibid.ibidem, di tempat yang samaSumber sama dengan catatan tepat sebelumnya, tidak diselingi sumber lainIbid., p. 131.
Op. cit.opere citato, dalam karya yang telah dikutipSumber sama, sudah diselingi sumber lain, halaman berbedaWilardjo, op. cit., p. 12
Loc. cit.loco citato, di tempat yang telah dikutipSumber dan halaman sama, sudah diselingi sumber lainSastrapratedja, loc. cit.

Lalu, apakah ketiganya masih dipakai? Jawabannya tergantung pedoman yang kamu ikuti. Chicago Manual of Style edisi 18 (bagian 13.37) menyatakan bahwa ibid. bisa mengaburkan identitas sumber, sehingga Chicago menyarankan catatan singkat sebagai gantinya. Alasannya, catatan singkat umumnya tidak sampai satu baris, jadi ibid. tidak menghemat tempat, dan di format elektronik yang menampilkan satu catatan sekaligus, ibid. bisa membingungkan pembaca (Douglas College Library, Shortened Citations). Op. cit. dan loc. cit. tidak muncul dalam contoh panduan Chicago edisi 18 yang kami rujuk; yang dipakai adalah catatan singkat berupa nama belakang penulis, judul singkat, dan halaman.

Di sisi lain, banyak pedoman kampus di Indonesia masih mengajarkan ketiganya. Bahkan pedoman FIS UNJ sendiri menyarankan menulis judul karangan sebagai pengganti op. cit. atau loc. cit. jika satu penulis punya beberapa karya yang dikutip, misalnya Larrabee, Reliable Knowledge, p. 6. Pendapat kami: kalau pedoman kampusmu tidak mewajibkan op. cit. dan loc. cit., pakai catatan singkat. Pembaca tidak perlu membolak-balik halaman mencari catatan mana yang dimaksud, dan naskahmu sudah sesuai Chicago edisi terbaru.

Diagram alur: sumber sama dengan catatan tepat sebelumnya tanpa selingan berarti Ibid.; sudah diselingi dan halaman sama berarti loc. cit.; halaman berbeda berarti op. cit.; Chicago edisi 18 memakai catatan singkat
Tabel di atas sebagai dua pertanyaan. Kalau pedoman kampusmu tidak mewajibkan singkatan Latin, kotak hijau di bawah adalah pilihan yang lebih jelas. Diagram oleh Rephrasa, berdasarkan pedoman FIS UNJ dan Chicago edisi 18.

Cara membuat footnote di Word dan Google Docs

Membuat footnote secara manual dengan mengetik angka kecil sendiri adalah kesalahan klasik. Nomornya tidak akan bergeser otomatis saat kamu menambah atau menghapus paragraf. Pakai fitur bawaan pengolah kata supaya penomoran selalu benar.

Microsoft Word

  1. Klik di akhir kalimat tempat nomor catatan kaki akan muncul.
  2. Buka tab References (Referensi), lalu pilih Insert Footnote (Sisipkan Catatan Kaki).
  3. Word menambahkan nomor di teks dan membuat ruang catatan di bawah halaman. Ketik isi catatan kakimu di sana.

Pintasan keyboard di Word untuk Windows adalah Ctrl+Alt+F. Langkah dan pintasan ini mengikuti halaman bantuan Microsoft Support tentang footnote dan endnote serta daftar pintasan keyboard Word.

Tangkapan layar halaman bantuan Microsoft Support bagian Add a footnote: klik tempat catatan kaki, pilih Reference lalu Insert Footnote, lalu ketik teks catatan
Langkah resmi dari Microsoft Support, sama dengan tiga langkah di atas. Di Word versi bahasa Indonesia, tab ini bernama Referensi. Tangkapan layar diambil 30 Oktober 2026. Sumber: Microsoft Support, Add footnotes and endnotes.

Google Docs

  1. Letakkan kursor di tempat nomor catatan kaki akan muncul.
  2. Buka menu Insert, pilih Page elements, lalu Footnote.
  3. Ketik isi catatan kakinya.

Satu hal yang jarang diketahui: pada dokumen berformat pageless (tanpa halaman), Google Docs menampilkan semua catatan kaki bersama-sama di akhir dokumen, bukan di bawah tiap halaman (Google Docs Editors Help). Jika dosen meminta catatan di bawah halaman, ubah dulu dokumen ke format berhalaman sebelum mencetak atau mengekspor ke PDF.

Beda footnote dan daftar pustaka

Footnote dan daftar pustaka saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Pedoman FIS UNJ merumuskannya dengan jelas: tujuan utama catatan kaki adalah mengidentifikasi lokasi spesifik dari karya yang dikutip, sedangkan tujuan utama daftar pustaka adalah mengidentifikasi karya ilmiah itu sendiri (FIS UNJ). Perbedaan fungsi itu yang membuat formatnya berbeda.

AspekFootnote (catatan kaki)Daftar pustaka
LetakBawah halaman, bernomorAkhir naskah, satu daftar
UrutanSesuai urutan muncul di teksAbjad nama belakang penulis
Nama penulisUrutan biasa: Charles YuDibalik: Yu, Charles
Pemisah unsurKoma, data terbit dalam kurungTitik, tanpa kurung
Nomor halamanHalaman yang dikutipTidak ada untuk buku; rentang penuh untuk artikel

Contoh buku yang sama dalam dua bentuk, dari Chicago Quick Guide:

Catatan kaki: 1 Charles Yu, Interior Chinatown (Pantheon Books, 2020), 45.

Daftar pustaka: Yu, Charles. Interior Chinatown. Pantheon Books, 2020.

Apakah naskah yang memakai footnote tetap butuh daftar pustaka? Dalam sistem catatan dan bibliografi Chicago, ya, kecuali pedomanmu menyatakan lain. Panduan lengkap menyusun bagian akhir naskah ada di artikel cara penulisan daftar pustaka yang benar, dan contoh siap tiru per jenis sumber ada di contoh daftar pustaka dari buku, jurnal, dan website.

Kesalahan yang paling sering muncul

Dari contoh-contoh di atas, kesalahan berikut paling mudah dihindari tetapi paling sering muncul:

  • Mencampur gaya sitasi. Memakai footnote di satu bab dan (Penulis, tahun) di bab lain. Pilih satu sistem untuk seluruh naskah.
  • Memakai Ibid. setelah sumber lain. Ibid. hanya merujuk catatan tepat sebelumnya. Jika diselingi sumber lain, pakai catatan singkat.
  • Lupa nomor halaman. Footnote referensi tanpa halaman kehilangan fungsi utamanya.
  • Membalik nama penulis di catatan kaki. Nama dibalik hanya di daftar pustaka.
  • Mengetik nomor secara manual. Gunakan fitur Insert Footnote agar penomoran otomatis.
  • Tidak mencantumkan sumber untuk parafrase. Kalimat boleh baru, gagasan tetap milik penulis asli.

Kebiasaan yang kami sarankan: setiap selesai satu subbab, baca ulang semua catatan kakinya berderet. Koma yang hilang atau judul yang lupa dimiringkan jauh lebih mudah terlihat dengan cara itu.

Kesimpulan

Footnote adalah catatan bernomor di bawah halaman yang menunjuk sumber dan halaman spesifik yang kamu kutip. Sitasi pertama ditulis lengkap, sitasi berikutnya cukup catatan singkat. Chicago edisi 18 menyarankan catatan singkat sebagai pengganti Ibid., sementara banyak kampus di Indonesia masih menerima Ibid., op. cit., dan loc. cit., jadi selalu cek pedoman fakultasmu.

Setelah catatan kaki beres, sumber yang sama tetap perlu masuk daftar pustaka. Untuk bagian itu, generator daftar pustaka Rephrasa bisa menyusun entri dari DOI, URL, atau ISBN langsung di browser, termasuk gaya APA jika kampusmu memakai sitasi di dalam teks. Periksa ulang setiap entri sebelum dimasukkan ke naskah. Butuh definisi dasar dulu? Mulai dari artikel apa itu sitasi.