Kutipan Langsung dan Tidak Langsung: Pengertian, Aturan, dan Contoh
Tampilkan daftar isi
- Kutipan adalah apa? Pengertian menurut KBBI
- Perbedaan kutipan langsung dan tidak langsung
- Kutipan langsung pendek dan contohnya
- Kutipan langsung panjang (lebih dari 4 baris atau 40 kata)
- Aturan kutipan berbeda di tiap pedoman kampus
- Menghilangkan atau menambah kata dalam kutipan langsung
- Kutipan tidak langsung: parafrase yang tetap jujur
- Cara mencantumkan sumber kutipan dan daftar pustaka
- Kapan memakai kutipan langsung, kapan tidak langsung

Kutipan langsung dan tidak langsung adalah dua cara memakai pendapat orang lain di tulisanmu. Kutipan langsung menyalin kata-kata sumber persis apa adanya dan menandainya dengan tanda petik atau blok tersendiri. Kutipan tidak langsung menyampaikan gagasan sumber dengan kalimatmu sendiri, tanpa tanda petik. Keduanya tetap wajib mencantumkan sumber.
Di artikel ini kamu akan melihat aturan kutipan pendek dan panjang, cara mengutip tanpa menjiplak, dan cara mencantumkan sumbernya dalam APA 7. Semua contohnya diambil dari buku dan jurnal yang benar-benar ada, lengkap dengan nomor halaman yang bisa kamu cek sendiri.
Kutipan adalah apa? Pengertian menurut KBBI
Menurut KBBI VI Daring, kutipan dalam bidang linguistik adalah "pengambilalihan satu kalimat atau lebih dari karya tulisan lain untuk tujuan ilustrasi atau memperkokoh argumen dalam tulisan sendiri". KBBI juga mencatat padanannya: petikan, nukilan, dan sitat.

Definisi ini memberi dua petunjuk penting. Pertama, kutipan dipakai untuk tujuan tertentu, yaitu memperjelas atau memperkuat argumenmu. Kedua, kutipan berasal dari karya orang lain, jadi pemiliknya harus disebut.
Kata "kutipan" juga sering dipakai untuk kalimat favorit dari sebuah novel atau buku populer, misalnya saat orang mencari kutipan buku untuk dibagikan. Aturannya sebenarnya sama: kalimat itu milik penulisnya, jadi sebutkan nama penulis dan judul bukunya. Bedanya, di karya ilmiah kamu juga wajib menulis tahun, halaman, dan entri di daftar pustaka.
Perbedaan kutipan langsung dan tidak langsung
Pedoman skripsi IAIN Metro (2018) merumuskan bedanya dengan jelas. Kutipan langsung "ditulis sama persis seperti sumber aslinya, baik mengenai bahasa maupun ejaannya". Kutipan tidak langsung, yang juga disebut parafrasa, mengambil "intisari atau pokok pikiran" sumber dalam kalimat yang disusun sendiri oleh pengutip.
| Aspek | Kutipan langsung | Kutipan tidak langsung |
|---|---|---|
| Bentuk | Kata, ejaan, dan tanda baca sama persis dengan sumber | Gagasan sumber ditulis ulang dengan bahasamu sendiri |
| Penanda | Tanda petik (pendek) atau blok terpisah (panjang) | Tanpa tanda petik |
| Nomor halaman (APA 7) | Wajib | Tidak wajib, tetapi boleh dan dianjurkan untuk sumber panjang |
| Cocok untuk | Definisi, pasal hukum, rumusan yang tidak boleh berubah | Sebagian besar isi kajian pustaka |
| Risiko kalau salah | Kata sumber berubah, atau terlalu banyak kutipan | Kalimat terlalu mirip sumber sehingga tetap dianggap plagiat |
Baris terakhir tabel ini jarang dibahas, padahal paling sering membuat mahasiswa terjebak. Kita bahas di bagian kutipan tidak langsung.
Kutipan langsung pendek dan contohnya
Kutipan langsung pendek dimasukkan ke dalam paragrafmu dan diapit tanda petik. Dasarnya ada di EYD V tentang tanda petik: tanda petik dipakai "untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain".
Batas "pendek" berbeda menurut gaya. Dalam APA 7, kutipan pendek adalah kutipan di bawah 40 kata, seperti dijelaskan Purdue OWL. Banyak pedoman kampus di Indonesia memakai ukuran baris: IAIN Metro menyebut kutipan pendek sebagai kutipan yang panjangnya "maksimal empat baris".
Untuk setiap kutipan langsung, APA meminta penulis, tahun, dan nomor halaman. Pakai "p." untuk satu halaman dan "pp." untuk rentang halaman.
Contoh kutipan langsung dari jurnal
Sumbernya artikel Achmad Suherman di JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan), volume 6 nomor 8 tahun 2023, halaman 5737. Ada dua pola yang sama-sama benar.
Pola naratif: Suherman (2023) menyimpulkan bahwa teknik parafrase adalah "suatu cara dalam mengungkapkan kembali ide atau gagasan suatu tuturan dengan kalimat atau kata-kata sendiri" (p. 5737).
Pola parentetis: Teknik parafrase dipahami sebagai "suatu cara dalam mengungkapkan kembali ide atau gagasan suatu tuturan dengan kalimat atau kata-kata sendiri" (Suherman, 2023, p. 5737).
Perhatikan letak titiknya. Titik akhir kalimat ditulis sesudah kurung tutup, bukan di dalam tanda petik.
Contoh kutipan langsung dari buku
Buku Saku Panduan Antiplagiarisme dari FBS Universitas Negeri Yogyakarta ditulis tiga orang: Nurgiyantoro, Purbani, dan Sutiyono. Dalam APA 7, karya tiga penulis atau lebih cukup ditulis dengan nama penulis pertama ditambah et al., sejak sitasi pertama, seperti dijelaskan Purdue OWL tentang penulis.
Nurgiyantoro et al. (2015) menegaskan bahwa membuat parafrase "adalah cara perujukan terbaik yang disarankan" (p. 17).
Kutipan langsung panjang (lebih dari 4 baris atau 40 kata)
Kutipan panjang tidak lagi diselipkan di tengah paragraf. Ia ditulis sebagai blok tersendiri, tanpa tanda petik, dan menjorok dari margin kiri.
Di APA 7, menurut Purdue OWL, kutipan 40 kata atau lebih dimulai di baris baru, menjorok 1/2 inci dari margin kiri, tetap berspasi ganda, dan sitasinya ditulis sesudah tanda baca penutup. Pedoman IAIN Metro memakai aturan lain untuk kutipan lebih dari empat baris: diketik satu spasi, dimulai tujuh ketukan dari margin kiri, tanpa tanda petik.
Contoh kutipan blok dari buku
Kalimat berikut panjangnya sekitar 48 kata dan melintasi dua halaman, jadi ditulis sebagai blok dengan rentang halaman:
Dewasa ini perujukan yang demikian sudah semakin dihindari, kecuali hal-hal tertentu misalnya untuk definisi. Hal itu disebabkan perujukan secara verbatim jika dilakukan berkali-kali dan apalagi relatif panjang akan berubah menjadi perilaku menyontek. Perujukan secara verbatim juga menunjukkan bahwa penulis tidak kreatif, hanya mengambil karya orang dan bahkan mungkin juga kurang memahaminya. (Nurgiyantoro et al., 2015, pp. 17-18)
Isi kutipan itu sendiri adalah nasihat yang layak diikuti. Kutipan blok memakan banyak ruang. Kalau satu halaman skripsimu berisi dua atau tiga blok, biasanya itu tanda kamu sedang memindahkan teks, bukan menganalisisnya.
Aturan kutipan berbeda di tiap pedoman kampus
Saat menyusun contoh untuk generator Rephrasa, kami membaca beberapa pedoman penulisan kampus. Ternyata batas kutipan panjang, spasi, dan cara menyebut sumber berbeda-beda. Bahkan satu pedoman bisa memuat dua angka berbeda.
| Pedoman | Batas kutipan panjang | Format kutipan panjang | Cara menyebut sumber |
|---|---|---|---|
| APA 7 (via Purdue OWL) | 40 kata atau lebih | Blok baru, menjorok 1/2 inci, spasi ganda, tanpa petik | Penulis, tahun, halaman |
| IAIN Metro (2018) | Lebih dari 4 baris | Satu spasi, mulai 7 ketukan dari kiri, tanpa petik | Catatan kaki |
| Politeknik Negeri Medan (2021) | Lebih dari 4 baris di satu bagian, lebih dari 3 baris di bagian lain | Satu spasi, menjorok ke dalam | Penulis dan tahun di teks, catatan kaki memakai "hal." |
| FK Universitas Negeri Padang (2024) | Tidak diatur di bagian pengutipan | Kalimat yang dikutip ditulis tanpa tanda petik | Nomor superskrip gaya Vancouver |
Contoh Politeknik Negeri Medan menarik. Di bagian jarak baris, pedomannya menyebut kutipan langsung "yang lebih dari 4 baris" diketik satu spasi. Di bagian kutipan, angkanya menjadi "lebih dari 3 baris". Kalau kamu menemukan hal seperti ini, tanyakan ke dosen pembimbing angka mana yang dipakai, lalu konsisten.
Contoh FK UNP juga penting. Panduan tugas akhirnya memakai gaya Vancouver dengan nomor superskrip, tanpa tanda petik pada kalimat yang dikutip. Jadi aturan "kutipan langsung selalu pakai tanda petik" tidak berlaku di semua tempat.
Pendapat kami: aturan umum di internet hanya titik awal. Yang mengikat adalah pedoman program studimu. Simpan PDF pedomannya, lalu cocokkan setiap kutipan dengannya sebelum bimbingan.
Menghilangkan atau menambah kata dalam kutipan langsung
Kutipan langsung harus persis, tetapi kamu masih boleh memendekkannya atau menambah penjelasan asal ditandai. EYD V memberi alatnya:
- Tanda elipsis (...) untuk bagian yang dihilangkan. EYD V menyebut elipsis menunjukkan bahwa "dalam suatu kalimat atau kutipan ada bagian yang dihilangkan".
- Tanda kurung siku [...] untuk koreksi atau tambahan dari pengutip. Menurut EYD V, kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan atas kekurangan di naskah asli orang lain.
- Tanda petik tunggal ('...') untuk kutipan di dalam kutipan. EYD V memakainya untuk "petikan yang terdapat dalam petikan lain".
APA punya aturan serupa. Halaman Changes to Quotations mengizinkan beberapa perubahan kecil tanpa penjelasan, misalnya huruf pertama kutipan menjadi kapital atau kecil agar pas dengan kalimatmu. Perubahan lain, seperti menghilangkan kata atau memiringkan kata untuk penekanan, wajib ditandai.
Contoh dari kutipan buku tadi, dengan bagian tengah dihilangkan:
Menurut Nurgiyantoro et al. (2015), perujukan verbatim "jika dilakukan berkali-kali ... akan berubah menjadi perilaku menyontek" (p. 18).
Satu batas yang kami pegang: elipsis tidak boleh mengubah makna. Kalau kalimat aslinya "tidak selalu efektif" lalu kamu memotongnya menjadi "... efektif", itu bukan pemendekan, itu pemalsuan.
Kutipan tidak langsung: parafrase yang tetap jujur
Kutipan tidak langsung adalah bentuk yang paling banyak dipakai di karya ilmiah. APA mencatat bahwa penulis yang sudah publikasi lebih sering memparafrasakan sumber daripada mengutip langsung, dan menyarankan mahasiswa meniru kebiasaan itu. Nomor halaman tidak wajib, tetapi boleh ditambahkan bila membantu pembaca menemukan bagian yang dirujuk, misalnya di buku tebal.
Yang sering dilupakan: parafrase bukan sekadar mengganti beberapa kata dengan sinonim. Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 Pasal 10 ayat (3) memasukkan perbuatan "menulis ulang tanpa menggunakan bahasa sendiri sebagian atau seluruh karya milik orang lain walaupun menyebut sumber" sebagai plagiat. Jadi menyebut sumber saja tidak cukup kalau kalimatnya masih kalimat orang lain.
Contoh parafrase yang salah dan yang benar
Kalimat sumber (Suherman, 2023, p. 5737): teknik parafrase adalah suatu cara dalam mengungkapkan kembali ide atau gagasan suatu tuturan dengan kalimat atau kata-kata sendiri.
Kurang tepat: Suherman (2023) menyimpulkan teknik parafrase ialah sebuah cara untuk mengutarakan lagi ide atau gagasan sebuah tuturan memakai kalimat atau kata-kata sendiri.
Lebih tepat: Bagi Suherman (2023), inti parafrase ada pada bahasanya. Gagasannya tetap milik sumber, tetapi pilihan kata dan susunan kalimat harus datang dari penulis yang mengutip.
Versi pertama hanya menukar "adalah" dengan "ialah" dan "mengungkapkan kembali" dengan "mengutarakan lagi". Struktur kalimatnya sama persis. Versi kedua memecah gagasan menjadi dua kalimat baru dan menjelaskan maksudnya.
Alat parafrase seperti mode Akademik di alat parafrase Rephrasa bisa membantu menyusun ulang kalimat. Tetapi hasilnya tetap harus kamu baca, kamu bandingkan dengan sumber, dan kamu beri sitasi. Panduan lengkapnya ada di artikel pengertian dan jenis parafrase.
Cara mencantumkan sumber kutipan dan daftar pustaka
Baik kutipan langsung maupun tidak langsung, setiap kutipan punya dua bagian: penanda di teks dan entri di daftar pustaka. Panduan FK UNP merumuskannya dengan tegas: semua bahan yang dikutip secara langsung maupun tidak langsung harus dicantumkan dalam daftar rujukan, sedangkan bacaan yang tidak dikutip tidak dicantumkan.
Bentuk penanda di teks tergantung gaya yang dipakai kampusmu:
- APA 7 (penulis-tahun): (Suherman, 2023, p. 5737) atau Suherman (2023) ... (p. 5737).
- Catatan kaki: nomor di akhir kutipan, rinciannya di bawah halaman. IAIN Metro mewajibkan sumber kutipan langsung dan tidak langsung ditulis sebagai catatan kaki. Caranya dibahas di artikel cara membuat footnote.
- Bernomor (Vancouver atau IEEE): nomor urut rujukan di teks, misalnya superskrip seperti di FK UNP.
Entri daftar pustaka APA 7 untuk dua contoh di artikel ini:
Nurgiyantoro, B., Purbani, W., & Sutiyono. (2015). Buku saku panduan antiplagiarisme. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.
Suherman, A. (2023). Penerapan teknik parafrase untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis artikel (penelitian tindakan kelas). JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan), 6(8), 5735-5744. https://doi.org/10.54371/jiip.v6i8.2566
Kalau kamu hanya membaca sebuah pendapat lewat buku orang lain, jangan menulisnya seolah kamu membaca sumber aslinya. APA menyarankan mencari dan membaca sumber primer bila memungkinkan. Kalau tidak bisa, tulis sumber primer lalu "as cited in" sumber yang kamu baca, dan hanya sumber yang kamu baca yang masuk daftar pustaka.
Untuk menyusun entrinya tanpa mengetik manual, kamu bisa memakai generator daftar pustaka dari DOI, URL, atau ISBN, lalu memeriksa hasilnya. Format per gaya dijelaskan di halaman daftar pustaka APA, dan contoh per jenis sumber ada di halaman daftar pustaka buku dan daftar pustaka jurnal. Kumpulan contoh lain ada di artikel contoh daftar pustaka.

Kapan memakai kutipan langsung, kapan tidak langsung
Buku saku antiplagiarisme UNY menyebut perujukan verbatim makin dihindari "kecuali hal-hal tertentu misalnya untuk definisi" (Nurgiyantoro et al., 2015, p. 18). Pedoman IAIN Metro juga menyebut kajian teori ditulis dalam bentuk parafrasa, dengan kutipan langsung terutama untuk definisi atau konsep dasar.
Dari situ, aturan praktis kami untuk memilih kutipan langsung dan tidak langsung cukup sederhana:
- Pakai kutipan langsung bila kata-katanya sendiri penting: definisi resmi, bunyi pasal, istilah yang diperdebatkan, atau pernyataan narasumber wawancara.
- Pakai kutipan tidak langsung untuk menjelaskan temuan, teori, dan pendapat ahli. Inilah bagian terbesar kajian pustaka.
- Gabungkan keduanya: parafrasekan gagasan utama, lalu kutip langsung satu frasa kunci yang tidak bisa diganti.
- Sebelum mengumpulkan tugas, cocokkan setiap kutipan dengan sumbernya: kata, ejaan, halaman, dan entrinya di daftar pustaka.
Satu catatan jujur: kutipan langsung bukan tanda tulisan lemah. Kutipan yang dipilih dengan baik justru memperkuat argumen. Yang membuat tulisan lemah adalah kutipan yang dibiarkan berbicara sendiri tanpa kamu jelaskan maknanya.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa perbedaan kutipan langsung dan tidak langsung?
Kutipan langsung menyalin kata-kata sumber persis apa adanya dan diberi tanda petik atau ditulis sebagai blok. Kutipan tidak langsung menyampaikan gagasan sumber dengan kalimatmu sendiri tanpa tanda petik. Keduanya wajib mencantumkan sumber.
Berapa panjang kutipan langsung yang harus ditulis terpisah?
Dalam APA 7, kutipan 40 kata atau lebih ditulis sebagai blok tanpa tanda petik. Banyak pedoman kampus di Indonesia memakai ukuran baris, misalnya lebih dari empat baris diketik satu spasi dan menjorok. Ikuti angka di pedoman program studimu.
Apakah kutipan tidak langsung perlu nomor halaman?
Dalam APA 7 tidak wajib, tetapi boleh ditambahkan bila membantu pembaca menemukan bagian yang dirujuk, misalnya di buku yang tebal. Untuk kutipan langsung, nomor halaman wajib.
Kalau sudah diparafrasakan dan sumbernya disebut, apakah pasti aman dari plagiat?
Belum tentu. Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 menggolongkan penulisan ulang tanpa menggunakan bahasa sendiri sebagai plagiat walaupun sumbernya disebut. Parafrase harus benar-benar memakai susunan kalimat dan pilihan kata sendiri.
Bagaimana menulis kutipan di dalam kutipan?
Menurut EYD V, petikan yang terdapat di dalam petikan lain diapit tanda petik tunggal. Contoh: Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
Apakah setiap kutipan harus masuk daftar pustaka?
Ya. Setiap sumber yang kamu kutip, langsung maupun tidak langsung, harus muncul di daftar pustaka. Sebaliknya, bacaan yang tidak kamu kutip tidak perlu dicantumkan.
Apa fungsi tanda elipsis dalam kutipan langsung?
Menurut EYD V, elipsis (...) menunjukkan ada bagian kutipan yang dihilangkan. Pemendekan ini boleh selama makna kalimat sumber tidak berubah.
Bagaimana kalau pedoman kampus berbeda dengan APA?
Ikuti pedoman program studimu. Contohnya, IAIN Metro meminta sumber kutipan ditulis sebagai catatan kaki, sedangkan FK Universitas Negeri Padang memakai nomor superskrip gaya Vancouver tanpa tanda petik. Kalau satu pedoman memuat dua angka berbeda, tanyakan ke dosen pembimbing lalu pakai satu secara konsisten.
Sumber
- KBBI VI Daring, entri "kutipan" (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa)
- EYD V: Tanda Petik
- EYD V: Tanda Petik Tunggal
- EYD V: Tanda Elipsis
- EYD V: Tanda Kurung Siku
- APA Style: Direct Quotation of Material With Page Numbers
- APA Style: Changes to Quotations
- APA Style: Paraphrases
- APA Style: Secondary Sources
- Purdue OWL: In-Text Citations: The Basics (APA 7th Edition)
- Purdue OWL: In-Text Citations: Author/Authors (APA 7th Edition)
- IAIN Metro: Pedoman Penulisan Skripsi 2018
- Politeknik Negeri Medan: Pedoman Penulisan Proposal dan Laporan PKL dan TA (2021)
- Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Padang: Panduan Penulisan Tugas Akhir 2024
- Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2021 tentang Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah
- Nurgiyantoro, Purbani, dan Sutiyono (2015), Buku Saku Panduan Antiplagiarisme, FBS Universitas Negeri Yogyakarta
- Suherman, A. (2023). Penerapan Teknik Parafrase untuk Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa dalam Menulis Artikel. JIIP, 6(8), 5735-5744