Parafrase adalah cara mengungkapkan kembali gagasan dari sebuah sumber dengan kata dan susunan kalimat sendiri, tanpa mengubah maknanya. Dalam karya ilmiah, hasil parafrase tetap harus disertai sitasi, karena gagasannya tetap milik penulis sumber.

Jadi, kalau Anda bertanya "parafrase itu apa?", jawaban singkatnya begini: isi milik sumber, bahasa milik Anda. Artikel ini membahas arti parafrase menurut KBBI, tujuannya dalam makalah dan skripsi, jenis-jenisnya, contoh kalimat asli dan hasil parafrasenya, serta kapan alat parafrase membantu dan kapan justru merepotkan.

Pengertian Parafrase Menurut KBBI

Ada satu fakta kecil yang jarang dibahas: bentuk baku kata ini adalah parafrasa. KBBI VI Daring mencatat "parafrase" sebagai bentuk tidak baku dari "parafrasa". Keduanya merujuk ke hal yang sama, dan di percakapan kampus kata "parafrase" jauh lebih sering dipakai. Dalam dokumen resmi, seperti skripsi yang diperiksa ketat soal ejaan, "parafrasa" adalah pilihan yang aman.

Tangkapan layar entri parafrasa di KBBI VI Daring dengan keterangan bentuk tidak baku parafrase dan dua makna bertanda Ling
Entri "parafrasa" di KBBI VI Daring: parafrase tercatat sebagai bentuk tidak baku, dan kedua maknanya berlabel linguistik. Tangkapan layar diambil 30 Oktober 2026. Sumber: KBBI VI Daring, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

KBBI memberi dua makna untuk parafrasa, keduanya dari bidang linguistik:

  1. pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi tuturan yang lain tanpa mengubah pengertian;
  2. penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata-kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.

Makna pertama paling dekat dengan praktik menulis akademik. Dalam konteks ini, parafrase adalah pemindahan gagasan: Anda memindahkan gagasan dari bahasa penulis sumber ke bahasa Anda sendiri, dan pengertiannya tidak boleh bergeser. Makna kedua lebih sering muncul di pelajaran sastra, misalnya saat siswa menguraikan puisi menjadi prosa agar maksudnya lebih jelas.

Dari dua makna itu, pengertian parafrase bisa dirangkum dalam tiga syarat. Sebuah tulisan baru layak disebut parafrase kalau:

  • kata dan struktur kalimatnya berubah,
  • maknanya tetap sama dengan sumber, dan
  • sumber gagasannya tetap disebut.

Kalau salah satu syarat gugur, hasilnya bukan parafrase yang baik. Jadi, parafrase adalah soal makna dan kejujuran, bukan sekadar soal mengganti kata.

Diagram tiga syarat parafrase yang baik: kata dan struktur berubah, makna tetap sama, sumber tetap disebut
Tiga syarat di atas dalam satu gambar. Kalau satu saja gugur, hasilnya bukan parafrase yang baik. Diagram oleh Rephrasa.

Tujuan Parafrase dalam Karya Ilmiah

Kenapa dosen lebih suka Anda memparafrasakan daripada menyalin kutipan panjang? Panduan resmi APA Style tentang parafrase menyebut bahwa parafrase memungkinkan penulis meringkas dan menyintesis informasi dari satu atau beberapa sumber, memusatkan perhatian pada informasi penting, serta membandingkan detail yang relevan. APA juga mencatat bahwa penulis yang sudah menerbitkan karya lebih sering memparafrasakan sumber daripada mengutip langsung, dan mahasiswa dianjurkan meniru kebiasaan itu.

Pandangan serupa ada di Buku Saku Panduan Antiplagiarisme Universitas Negeri Yogyakarta. Buku itu menyebut perujukan dengan membuat parafrase sebagai cara perujukan terbaik yang disarankan, karena sekaligus menunjukkan bahwa penulis benar-benar memahami hal yang dirujuk. Dengan kata lain, parafrase adalah bukti pemahaman, bukan sekadar cara menghindari kutipan panjang.

Dalam praktik, tujuan parafrase di makalah, jurnal, atau skripsi bisa dipecah menjadi beberapa fungsi:

  • Membuktikan pemahaman. Anda hanya bisa menulis ulang dengan benar kalau sudah paham isinya.
  • Menyatukan suara tulisan. Bab tinjauan pustaka yang penuh kutipan langsung terasa seperti tempelan. Parafrase membuat alur argumen tetap milik Anda.
  • Menggabungkan beberapa sumber. Dua penelitian dengan temuan mirip bisa dirangkum dalam satu kalimat dengan dua sitasi.
  • Menyederhanakan bahasa. Kalimat sumber yang berbelit bisa ditulis ulang agar lebih mudah dipahami pembaca Anda.

Menurut kami, fungsi pertama yang paling penting. Bagi kami, parafrase adalah alat belajar. Kalau sebuah paragraf sumber tidak bisa Anda parafrasakan, itu tanda bagian itu belum benar-benar dipahami, dan sebaiknya dibaca ulang dulu.

Beda Parafrase, Kutipan Langsung, dan Ringkasan

Tiga cara memakai sumber ini sering tertukar. Materi Teknik Penyusunan Karya Tulis Ilmiah karya I Made Budiasa yang dipublikasikan UIN Malang membedakan kutipan langsung (kata demi kata, sesuai teks asli, tanpa perubahan) dari kutipan tidak langsung (inti sari teks diuraikan dengan gaya bahasa penulis sendiri). Parafrase termasuk jenis kedua.

AspekKutipan langsungParafraseRingkasan
Kata-kataPersis seperti sumberKata dan struktur sendiriKata sendiri
Cakupan isiBagian yang dikutip sajaGagasan beserta detail yang relevanHanya gagasan pokok
PanjangSama dengan sumberBisa mirip dengan sumberJauh lebih pendek
Tanda kutipWajib untuk kutipan pendekTidak dipakaiTidak dipakai
SitasiWajib, biasanya dengan halamanWajibWajib
Cocok untukDefinisi, istilah, kalimat yang khasSebagian besar rujukanGambaran umum sebuah karya

Dari tabel itu terlihat bahwa parafrase adalah jalan tengah: lebih lengkap daripada ringkasan, tetapi lebih luwes daripada kutipan langsung. Perhatikan juga baris terakhirnya. Kutipan langsung tetap berguna untuk definisi resmi atau kalimat yang kekuatannya justru ada pada pilihan katanya. Untuk aturan tanda kutip, elipsis, dan kutipan panjang, baca penjelasan lengkap tentang kutipan langsung dan tidak langsung.

Jenis-Jenis Parafrase

Tidak ada satu pembagian resmi untuk jenis parafrase. Setiap sumber memakai sudut pandang berbeda, jadi jangan heran kalau buku pelajaran dan panduan kampus memakai istilah yang tidak sama. Berikut pembagian yang paling sering ditemui.

Parafrase bebas dan parafrase terikat

Pembagian ini umum di materi pelajaran bahasa Indonesia. Seperti dirangkum detikBali, parafrase bebas membebaskan penulis memakai kata-kata lain selama makna teks asli terjaga. Parafrase terikat masih memperlihatkan bentuk dan kata-kata asli, lalu menambahkan kata lain, sering di dalam tanda kurung, tanpa mengubah makna.

Untuk karya ilmiah, parafrase bebas adalah bentuk yang Anda butuhkan. Parafrase terikat cocok untuk latihan memahami puisi, tetapi di makalah atau skripsi, teks yang masih memakai kata-kata asli justru mendekati kutipan langsung tanpa tanda kutip.

Parafrase lisan dan tertulis

Sebuah penelitian pendidikan di JOM FKIP Universitas Riau membagi parafrasa menjadi lisan dan tertulis. Keduanya sama-sama mengungkapkan kembali tuturan dengan kalimat sendiri tanpa mengubah makna; bedanya hanya pada medium. Menjelaskan isi jurnal kepada dosen pembimbing dengan kata-kata Anda sendiri juga termasuk parafrase lisan.

Parafrase antarbentuk dan terjemahan

Penelitian yang sama menguji siswa memparafrasakan puisi menjadi wacana eksposisi, contoh parafrase dari satu bentuk teks ke bentuk lain. Di dunia akademik, ada satu jenis yang sering terlupa: terjemahan. Menurut APA Style, kalau Anda menerjemahkan sendiri sebuah bagian teks ke bahasa lain di dalam tulisan Anda, terjemahan itu dianggap parafrase, bukan kutipan langsung. Ini relevan bagi mahasiswa Indonesia yang merujuk jurnal berbahasa Inggris. Kalau kebutuhan Anda di sini, lihat juga alat parafrase bahasa Inggris.

Contoh Kalimat Asli dan Hasil Parafrase

Teori lebih mudah dipahami lewat contoh. Kedua teks asli di bawah diambil dari sumber nyata yang dikutip di artikel ini, jadi Anda bisa membandingkannya sendiri.

Contoh 1: dari panduan antiplagiarisme

Teks asli: "Dengan cara ini, seorang penulis hanya merujuk atau mengambil substansi gagasan, ide, atau pendapat sumber yang berupa kalimat, alinea, atau bahkan lebih besar lagi, dengan membuat kalimat sendiri. Jadi, substansi gagasan milik sumber, sedang bahasa milik penulis." (Nurgiyantoro dkk., 2015, hlm. 16)

Parafrase yang baik: Nurgiyantoro dkk. (2015) menjelaskan bahwa saat memparafrasakan, penulis hanya mengambil inti gagasan dari kalimat, paragraf, atau bagian yang lebih panjang, lalu menuangkannya dengan kalimat buatannya sendiri; idenya tetap milik sumber, sedangkan rumusan bahasanya milik penulis.

Parafrase yang kurang tepat: Dengan cara ini, seorang penulis cuma merujuk atau mengambil inti gagasan, ide, atau opini sumber yang berupa kalimat, paragraf, atau lebih besar lagi, dengan membuat kalimat sendiri.

Versi kedua hanya menukar beberapa kata (hanya menjadi cuma, substansi menjadi inti, pendapat menjadi opini). Susunan kalimatnya masih sama persis, dan sitasinya hilang. Pola seperti ini bisa disebut tambal sulam (patchwriting), dan menurut kami inilah jebakan yang paling mudah terjadi saat menulis dengan terburu-buru.

Diagram perbandingan teks asli Nurgiyantoro dkk. (2015), hasil tambal sulam yang hanya menukar kata tanpa sitasi, dan parafrase yang baik dengan susunan baru dan sitasi
Contoh 1 dalam satu tampilan. Kata dalam kurung siku hanya ditukar sinonim, jadi susunan kalimat tambal sulam masih sama dengan aslinya. Teks dipotong agar muat. Diagram oleh Rephrasa, teks asli dari Buku Saku Panduan Antiplagiarisme UNY (2015).

Contoh 2: parafrase dari sumber berbahasa Inggris

Teks asli: "If you translate a passage from one language into another on your own in your paper, your translation is considered a paraphrase, not a direct quotation." (American Psychological Association, 2022)

Parafrase: APA Style menggolongkan terjemahan buatan penulis sendiri sebagai parafrase, sehingga terjemahan itu tidak perlu ditulis sebagai kutipan langsung (American Psychological Association, 2022).

Perhatikan dua hal. Struktur kalimatnya berubah (kalimat bersyarat menjadi kalimat pernyataan), dan sitasinya tetap ada. Untuk latihan langkah demi langkah dengan teknik sinonim, perubahan struktur, dan aktif-pasif, lanjutkan ke panduan cara parafrase yang benar.

Parafrase Tetap Wajib Mencantumkan Sumber

Ini bagian yang paling sering disalahpahami. Ada anggapan bahwa setelah kalimatnya diubah, sumbernya tidak perlu disebut lagi. Anggapan itu keliru. Panduan resmi gaya sitasi sepakat soal ini:

  • APA 7: saat memparafrasakan, kutip karya aslinya dengan format naratif, misalnya Nurgiyantoro dkk. (2015), atau format dalam kurung, misalnya (Nurgiyantoro dkk., 2015). Nomor halaman tidak wajib, tetapi boleh dicantumkan untuk membantu pembaca menemukan bagian yang dirujuk dalam karya yang panjang.
  • Parafrase panjang (APA): kalau parafrase berlanjut beberapa kalimat, sitasi cukup pada penyebutan pertama selama konteksnya jelas. Kalau parafrase masuk ke paragraf baru atau berganti sumber, sitasi ditulis lagi.
  • MLA 9: menurut MLA Style Center, kalau bagian tertentu sebuah karya dikutip atau diparafrasakan dan karya itu punya nomor halaman atau penanda lokasi lain, penanda itu wajib dicantumkan dalam tanda kurung.
  • Panduan kampus di Indonesia: buku saku UNY menyebut penyebutan nama, tahun terbit, dan halaman sebagai wujud perujukan yang paling lazim dan disarankan.

Budiasa juga mencantumkan "menyusun kalimat dengan menggunakan pendapat orang lain, buku, dan sebagainya tanpa menyebutkan sumbernya" sebagai salah satu bentuk penjiplakan. Artinya, parafrase tanpa sitasi tetap plagiarisme, sebaik apa pun kalimatnya. Ingat, parafrase adalah cara memakai gagasan orang lain secara jujur, bukan cara mengakuinya sebagai milik sendiri. Selain sitasi di dalam teks, sumber yang sama juga harus masuk ke daftar pustaka. Kalau Anda belum yakin bedanya, baca dulu pengertian sitasi dan contohnya, lalu susun entri daftar pustakanya dengan generator daftar pustaka.

Satu catatan lagi: tiap kampus dan jurnal punya gaya selingkung sendiri. Kalau pedoman fakultas Anda berbeda dari APA atau MLA, ikuti pedoman fakultas.

Kapan Memakai Alat Parafrase?

Alat parafrase berbasis AI bisa membantu, asalkan dipakai untuk tujuan yang benar. Pertanyaan "parafrase pakai apa?" sebaiknya dijawab dengan pertanyaan balik: untuk apa? Situasi ketika alat seperti Rephrasa berguna:

  • Kalimat Anda sendiri terasa kaku atau terlalu panjang, dan Anda ingin melihat beberapa alternatif susunan.
  • Anda sudah memahami sumber dan menulis draf parafrase, lalu ingin membandingkannya dengan versi lain sebelum memilih.
  • Anda butuh nada yang lebih formal untuk karya ilmiah. Mode akademik di parafrase akademik diatur untuk tidak menambah fakta dan mempertahankan sitasi, angka, serta istilah teknis.

Batasnya juga perlu jujur disebut. Alat parafrase tidak tahu konteks penelitian Anda. Hasilnya bisa menggeser makna, misalnya mengubah "berkorelasi" menjadi "menyebabkan", dan bagi peneliti itu perbedaan yang besar. Alat juga tidak menggantikan sitasi: sumber tetap wajib ditulis, siapa pun yang menyusun kalimatnya. Jadi bacalah ulang setiap hasil, cocokkan dengan sumber aslinya, dan pastikan istilah kunci tidak berubah.

Untuk satu kalimat, gunakan alat parafrase kalimat; untuk satu bagian utuh, gunakan parafrase paragraf. Teks yang Anda tempel di Rephrasa tidak disimpan setelah diproses.

Tangkapan layar alat parafrase akademik Rephrasa dengan tab mode Akademik, Sederhana, dan Formal, teks contoh di kotak kiri, dan kotak hasil yang masih kosong
Alat parafrase akademik Rephrasa dengan tiga mode (Akademik, Sederhana, Formal) dan teks contoh bawaan, sebelum diproses. Batas paket gratis tampil di bawah kotak: 500 kata per permintaan dan 2.000 kata per hari. Tangkapan layar 30 Oktober 2026.

Kesimpulan

Singkatnya, parafrase adalah pengungkapan kembali gagasan sumber dengan bahasa sendiri tanpa mengubah makna, dan bentuk bakunya menurut KBBI adalah parafrasa. Dalam karya ilmiah, parafrase menunjukkan bahwa Anda memahami sumber, menjaga suara tulisan tetap milik Anda, dan memudahkan penggabungan beberapa rujukan. Ciri parafrase yang baik ada tiga: kata dan struktur berubah, makna tetap, dan sumber tetap dicantumkan di teks maupun di daftar pustaka.

Kalau Anda ingin mencoba, tulis dulu parafrase versi Anda sendiri, lalu bandingkan dengan hasil alat parafrase Rephrasa sebelum memilih kalimat akhir.